Tahun 2003, Galang Press memberi kesempatan menerbitkan novel menyejarah saya, berjudul "Ripta, Perjuangan Tentara Pecundang".
Seperti orang yang terlalu dekat bercermin, saya sulit membaca bayangan saya sendiri, terutama untuk melihat bayangan mana kurang sempurna
.
Di bawah ini adalah resensi yang pernah ditulis di harian Suara Pembaruan oleh Ari J Adipurwawidjana, seorang dosen cerdas dari Fakultas Sastra, Universitas Padjajaran yang sekarang meluaskan ilmunya di State (kapan pulang, Ri?).
Jika ingin memiliki RIPTA, silakan email ke saya, ankas30@yahoo.com (*lihat keterangan di bawah), karena tentunya dari Gramedia dan toko-toko buku lain sudah diretur, kecuali Aksara Kemang (kalau masih ada, terimakasih Aksara!).
Suara-suara dalam Transisi
Ketika saya membaca judul novel pertama Anita Kastubi, Ripta: Perjuangan Tentara Pecundang, terbuka bagi saya berbagai tafsiran, dan, karena itu, mengundang minat membacanya. Namun sayang, suatu buku tidak hanya terbit dengan kata-kata dan cerita yang membangunnya, melainkan juga lahir ke dalam suatu sistem ekonomi politik penerbitan-atau meminjam istilah Benedict Anderson dalam bukunya yang tersohor, Imagined Communities, sebuah print capitalism-sehingga komunikasi pembaca dengan bukunya diperantarai (atau tepatnya dimakelari) dan dikontaminasi oleh peran industri penerbitan yang menggiring pemaknaan pembaca terhadap buku ke arah yang mungkin diharapkan pihak penerbit dan segala perangkat editorialnya.
Begitulah tampaknya yang terjadi pada novel Ripta. Judulnya yang menarik dan membuka peluang untuk beragam minat dan pandangan diarahkan dan dipersempit oleh serangkaian kutipan di sampul belakang dari para pakar dan selebriti dunia sastra dan budaya. Sepotong pernyataan dari Asvi Warman Adam dan Budi Susanto SJ memberi kesan bahwa yang menjadi inti novel itu adalah suatu usaha pembangunan wacana alternatif tentang tentara dalam kehidupan di Indonesia.
Di samping itu, ada kutipan Hersri Setiawan (mungkin untuk memberi nuansa revolusioner agar Ripta tampak hadir seiring dengan terbitan Galang Press lainnya) yang, dengan bahasa fasih berbunga susastra, sesungguhnya kurang jelas komentarnya karena kurang jelas pula rujukan materialnya.
Novel Ripta menyimpan tiga potensi penting, yaitu (1) pola naratif yang dibangun oleh tiga perawi atau juru kisah yang secara bergiliran menyampaikan riwayatnya-masing-masing terpisah namun bertautan secara tangensial; berkaitan dengan pola naratif ini, (2) wacana fragmenter, yang seiring dengan berjalannya cerita dan dibangunnya alur, membangun identitas masing-masing perawi; dan, karena adanya wacana fragmenter itu, (3) terpaparnya sebuah kritik atas identitas-identitas hibrid yang berada dalam relung keantaraan masa transisi dari budaya romantik-feodal ke wilayah modern.
Walaupun novel ini berjudul Ripta, yang artinya novel ini tentang dan berpusat pada tokoh Ripta (nama aslinya sebenarnya Suripto), kisahnya bukanlah milik Ripta saja melainkan juga milik dua perawi lainnya, yaitu Lasmini (istri Ripta) dan Hesti (anak perempuan Ripta). Lasmini bahkan mendapat peran penting, yaitu membuka rangkaian narasi dalam novel ini. Giliran kedua pun diperoleh Hesti, bukan Ripta, sehingga pada Bab 3 ketika Ripta mendapat kesempatan berbicara sebagai perawi, ia sekadar menjadi pelengkap bangun naratif yang sudah dirintis oleh Lasmini dan Hesti. Karena itu, kesan yang dihasilkan adalah bahwa kisah yang sampai pada pembaca adalah kisah dua orang perempuan yang terpaksa melibatkan sebuah sosok suami dan bapak dalam penuturannya.
Teknik naratif dengan menghadirkan beberapa perawi semacam itu mengingatkan kita pada penulis-penulis ternama di awal abad ke-20 seperti William Faulkner, Virginia Woolf, dan James Joyce yang semuanya bereksperimen dengan teknik arus kesadaran (stream of consciousness). Yang menarik tentang teknik bercerita dengan multinarator yaitu pada prinsipnya teknik ini bertentangan sekali dengan konsep Mikhail Bakhtin tentang carnival atau polilog yang diajukannya sebagai sokoguru genre novel.
Bakhtin memandang bahwa berbeda dengan pola tutur narasi pramodern, novel sebagai bentuk yang baru (bahasa Latin nova = baru) memungkinkan terjadinya wacana yang egaliter karena setiap tokoh terlepas dari ras, kelas, ataupun gender mendapat kesempatan berbicara dalam sebuah karnival yang bebas dari protokol.
Yang tampak dalam pola narasi Ripta, sebagaimana juga dalam misalnya Mrs Dalloway karya Virginia Woolf, The Sound and the Fury karya William Faulkner, dan Saman karya Ayu Utami sebagai pendahulu Anita Kastubi yang paling mutakhir, adalah adanya kesulitan bagi sosok-sosok yang hadir dalam karya-karya tersebut yang memiliki kesulitan dalam berkomunikasi satu sama lain. Kemajemukan sudut pandang memang di satu pihak sebagai sebuah strategi naratif yang lahir dalam kesusastraan modern menunjukkan semangat egaliter dalam tindak ujaran yang memberi kesempatan bersuara kepada semua pihak dengan masing-masing sudut pandangnya.
Namun, di lain pihak, kisah yang disajikan dengan perawi majemuk seperti Ripta juga menunjukkan bahwa riwayat yang disajikan masing-masing narator disajikan secara terpisah karena masing-masing sudut pandang itu tidak mampu berdialog satu sama lain. Tidak ada usaha untuk menegosiasikan kisah versi masing-masing dengan narator lainnya. Yang ada, hasilnya, hanyalah enclave-enclave ujaran yang hidup di wilayah yang sama, tetapi tidak sesungguhnya hidup bersama. Karena itu, Ripta tampak seperti suatu wilayah diskursif bagi Lasmini, Hesti, dan Suripto untuk masing-masing berbicara sebebas-bebasnya, tetapi tidak kepada satu sama lain-suatu karnival memang, namun yang menyajikan parade monolog, bukan forum bagi yang menawarkan yang disebut Bakhtin sebagai imajinasi dialogis.
Dalam situasi semacam itu, tampak sekali bahwa novel ini sedang berada dalam transisi dari ranah wacana feodal, yang memisahkan anggota-anggota masyarakat dalam kasta-kasta yang tidak diperkenankan besentuhan satu sama lain demi kelanggengan wacana feodal itu sendiri, ke ranah wacana modern yang egaliter, yang menyediakan ruang bersama bagi semua pihak untuk bersuara.
Namun, tampak sosok-sosok dalam Ripta gamang dalam menjelang modernitas; malah pada gilirannya ikut mencirikan wacana modern dengan fragmentasi, kompartementalisasi, dan represi: pendek kata, skizofrenia. Ketiga juru kisah novel ini berupaya membangun identitas dengan cara menanggalkan atribut-atribut masa lalu (yang sesungguhnya dunia tempat mereka dilahirkan dan hidup) dan kemudian menciptakan sosok (yang sebenarnya topeng) dengan mengambil sosok lain yang dianggapnya pantas diteladani.
Dari ketiga perawi Ripta, Lasmini-lah yang paling membumi. Ia sebenarnya tidak punya obsesi mendandani dirinya sebagai sosok ideal. Ia bahkan tahu masa lalu suaminya yang sesungguhnya karena memang ia sudah mengenal Ripta sejak mereka berdua kanak-kanak. Namun, justru karena itulah ia tidak dapat memisahkan dirinya dari Ripta. Dalam tatanan nilai feodal dan patriarkal, Lasmini hanya mengenal dirinya sebagai pelengkap bagi identitas suaminya. Arti dirinya dibangun dengan cara membantu suaminya membangun identitasnya.
Dengan kata lain, Lasmini melekatkan dirinya pada suaminya, dan identitas yang diatribusikan kepada dirinya adalah identitas suaminya. Ketika ia membuka toko, Ripta sendiri mengusulkan toko itu diberi namanya sendiri, tetapi Lasmini memutuskan untuk menamakan tokonya "Bu Ripta". Namun, ada saatnya Lasmini berkeinginan memiliki identitas yang mandiri dan mendapat penghormatan sebagai manusia dengan derajat setara. Seperti yang diakuinya sendiri, pada waktu ia bersenggama dengan suaminya, yang menjadi tujuannya adalah kepuasan suaminya sebagai pejuang dan pahlawan di ranjang, bukan kenikmatan yang dirasakannya sendiri, sehingga ia "kadang memang berakhir dengan hanya capai. Tidak merasai apa-apa…. Sampai terasa bosan."
Sosok Hesti juga merupakan tokoh yang ambigu dan transisional dalam arti ia merupakan contoh konsep yang dijadikan Joanna Russ sebagai judul novelnya The Female Man. Hesti secara pas menggambarkan sosok perempuan-dalam kerangka psikoanalisis Lacanian-yang berusaha masuk ke dalam tahap simbolis pembangunan identitas dengan berusaha memenuhi "kaidah kebapakan" (patriarki/the law of the father/ al-qaidah al-ubuwah). Konon, ia sejak kecil menjadi teman diskusi ayahnya, sampai-sampai ibunya sering merasa tersaingi. Ia pun melanjutkan sekolah ke Kota Yogyakarta.
Diskusi dan pendidikan merupakan tanda-tanda upaya Hesti menerapkan logosentrisme ayahnya kepada dirinya. Sedemikian kuatnya nilai-nilai yang dibangun dalam kerangka logosentrisme ini, sampai ia canggung menghadapi tubuhnya sendiri dan tubuh perempuan secara umum. Hesti berada dalam situasi transisi antara menjelang keluar dari dominasi patriarkal sebagaimana yang dialami ibunya ke dalam pengenalan terhadap keperempuanan dirinya sendiri. Ia sadar ia perempuan tetapi berusaha membebaskan diri patriarki dengan cara menjadi bapaknya dan berusaha tidak menjadi ibunya sehingga sesungguhnya ia memperkukuh dominasi patriarkal terhadap dirinya.
Tokoh-tokoh dalam novel ini berusaha keras membangun konsep kedirian yang modern dan mandiri, tetapi senantiasa kesulitan karena, betapa pun besar harapan dan pandangan ke masa depan, mereka tetap terbebani dengan tuntutan dan kenangan masa lalu. Hal itu bukan saja dalam bentuk Ripta (atau Suripto), yang walaupun dengan usaha progresif menciptakan identitas bagi dirinya sebagai seorang pejuang terhormat, ia senantiasa dihantui dengan ingatan regresifnya tentang masa lalu, yang bila diketahui orang lain, akan menghancurkan sosok terhormat pada dirinya yang sudah lama dibangunnya.
Varian lain dari tarik ulur antara masa lalu dan modernitas tampak juga pada ketidakmampuan Ripta untuk memahami kenyataan masa kini sebagaimana adanya. Ripta memaknai kenyataan modern dengan nilai-nilai feodal. Misalnya, usahanya membangun citra dirinya sebagai pejuang-tentara zaman 40-an tumpang tindih dengan khayalannya tentang sosok priyayi-ksatria Mataraman. Tepatnya, Ripta mengidentifikasi sosok tentara pejuang yang hadir dalam awal masa remajanya (ketika mulai usaha dibangunnya identitas secara sengaja) sebagai kelanjutan dari sosok priyayi-ksatria Jawa sebagai prototipe manusia ideal yang sesungguhnya hanya ada dalam benaknya belaka.
Ripta menjadi epitom sosok transisional di masa pascakemerdekaan yang, walaupun berusaha meninggalkan budaya feodal, nilai-nilai feodal tetap ditiru dalam bentuk baru ketika ia memasuki zaman modern tempat hidupnya negara-bangsa, republik, dan demokrasi. Ripta adalah contoh orang-orang yang meninggalkan gelar raden mas dan pangeran dan menggantinya dengan gelar militer dan akademis.
Dengan demikian pula, seperti halnya Lasmini dan Hestia yang membangun identitas dan harga dirinya dengan bersandar pada nilai-nilai patriarkal, Ripta membangun identitas dirinya sebagai pejuang-pahlawan berdasarkan asumsi bahwa diri hanya berarti dalam alam demokrasi republik pascakemerdekaan bila disandarkan, atau setidaknya dikaitkan, pada hiraki dan tata nilai yang berlaku dalam kemiliteran.
Itu ironis karena Ripta memiliki pemahaman ini sejak ia berusia 11 tahun di awal berdirinya republik ini dengan semangat demokrasi untuk memerdekakan diri dari berbagai bentuk penindasan. Itu berarti novel ini menyiratkan bahwa sejak awal demokrasi ini sudah cacat karena keberadaaannya tidak dapat dipisahkan dari militerisme yang sudah sejak awalnya merambah ke tataran akar rumput.
Yang lebih ironis, bukan saja sosok-sosok perawi dalam Ripta berada dalam transisi: novel ini sendiri merupakan sebuah jelangan Anita Kastubi ke dalam genre novel setelah beberapa kali menulis cerita pendek dan sehari-hari membangun sosok dalam profesinya di dunia public relations dan image consultancy.
Anita memiliki modal yang bagus dalam menulis novel (yang dicontohkan oleh Pramoedya dan Ayu Utami): riset yang gigih untuk mendapatkan bahan yang komprehensif dan ekstensif-suatu sifat yang perlu ditiru sastrawan Indonesia yang lain serta kepekaan terhadap gejala-gejala psikososial. Namun, potensi itu tampak diabaikan oleh editor sehingga dari segi craftsmanship novel ini terbengkalai. Misalnya walaupun ada tiga narator, suara yang terdengar paling dominan adalah suara tunggal Anita Kastubi.
Anita Kastubi dan Ripta harus dipisahkan dari deretan terbitan Galang Press yang lain seperti Jakarta Undercover yang jelas lebih sensasional-euforis daripada intelektual-dewasa. Ripta menyimpan potensi untuk menjadi lebih daripada sekadar komoditas dalam industri penerbitan, sebagai novel.
Karena itu, tepuk tangan untuk novel pertama Anita Kastubi, semoga dengan aplaus itu terbangunlah semangat Anita Kastubi untuk menulis lebih banyak dengan mutu yang semakin baik. Namun, untuk Galang Press, saya tidak punya kata-kata yang dapat tergolong sopan. Mungkin satu desahan keluhan cukup.
Ari J Adipurwawidjana
Suara Pembaruan, 07 Desember 2003
*Jika ingin memiliki RIPTA, silakan email ke ankas30@yahoo.com, dengan subject: "Ingin Baca RIPTA". Harga buku Rp 35.000,- belum termasuk biaya pengiriman.
Sorry, tolong jangan YM saya, untuk pemesanan buku ini. Emailkan saja alamat pengiriman bukunya karena lokasi pengiriman menentukan biaya penggantian.
Bila ingin autograph dan ingin ada pesan atau tulisan khusus (biasanya, senang nama panggilan apa?), tulislah di email ini.
Semoga RIPTA memberi makna baru bagi hidupmu…;)